Saat pertemuan antara Lynx dengan para tokoh suku Yaksa, Ayunga memberi saran agar Lynx melewati sungai untuk menghemat waktu perjalanan, dan Lynx dapat beristirahat karena arah yang dilalui mengikuti arus sungai. Lynx memikirkan ide tersebut dan memperhitungkan kemampuannya dengan berlari lewat darat serta waktu yang akan dihabiskan jika melewati sungai. Setelah berpikir sejenak, Lynx menyetujuinya dan pergi berpamitan ke suku Raksa.
“Lynx!” seru Ayunga, berdiri di dekat salah satu perahu. “Kami sudah menyiapkan semuanya. Perahu ini akan membawa kamu ke aliran utama sungai menuju barat.”
Lynx mengangguk pada Ayunga sebagai ucapan terima kasih.
“Kami tahu perjalananmu berbahaya, tapi aku percaya kamu akan selamat,” kata Ayunga dengan nada penuh keyakinan.
Darek mendekati Lynx sekali lagi, terlihat enggan untuk membiarkan sahabat barunya pergi. “Lynx, jaga dirimu di sana. Kami akan bertemu lagi di barat, aku janji.”
Lynx menepuk bahu Darek dengan ringan. “Aku tahu kalian akan sampai di sana. Semangat kalian adalah senjata terkuat yang kalian miliki. Jangan sia-siakan itu.”
Ayunga berdiri dan menggenggam tangan Lynx dengan erat. “Kami tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan untuk kami. Selamat jalan, Lynx.”
“Terima kasih atas bantuannya,” kata Lynx kepada mereka.
“Selamat jalan, Lynx. Semoga perjalananmu lancar,” ujar salah satu pemuda Yaksa sambil mendorong perahu ke air.
Setelah berpamitan dengan semua orang, Lynx melangkah masuk ke dalam perahu yang dipenuhi persediaan sederhana. Ayunga dan beberapa orang Yaksa membantu melepas perahu, membiarkannya hanyut perlahan mengikuti arus.
Dari tepi sungai, Jelita, Darek, Rafin, Ekar, Ayunga, dan yang lainnya melambaikan tangan. “Sampai jumpa, Lynx!” seru mereka hampir serempak.
Lynx hanya mengangkat tangannya sebagai balasan, matanya menatap jauh ke depan, ke arah barat. Di dalam hatinya, ia tahu perjalanan ini akan penuh dengan rintangan, tapi ada sesuatu yang mendesaknya untuk terus maju. Ada seseorang yang penting baginya, dan ia harus memastikan orang itu selamat.
Lynx yang duduk di perahu memegang dayung dengan kuat. Saat perahu melaju di atas arus sungai, pikirannya terus mengarah ke perkampungan Sinto. Sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa bahaya semakin mendekat, dan dia harus sampai kesana secepat mungkin.
Sementara itu, beberapa hari setelah Lynx meninggalkan suku Yaksa, Lala dan kakeknya terus melangkah di tengah hutan lebat. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti tembok raksasa, dan sinar matahari hanya mampu menembus sedikit celah di antara dedaunan. Suara burung dan gemerisik daun membuat suasana semakin mencekam.
“Arah barat... kita harus terus ke barat,” gumam Lala sambil mengamati arah matahari untuk digunakan sebagai penunjuk arah mata angin.
Kakeknya, yang kini sudah terbebas dari tali borgol, berjalan di sampingnya dengan langkah mantap. “Barat memang tujuan kita. Tapi kita harus waspada, hutan ini punya caranya sendiri untuk membuat kita tersesat.”
Lala melirik ke arah kakeknya, sedikit khawatir. “Kakek, kau ini jangan menakut-nakuti aku? Kita sudah berjalan sejauh ini. Selain itu kita sudah mengalami banyak bahaya karena tidak memiliki senjata untuk bertahan.”
“Senjata bukan segalanya,” jawab sang kakek dengan tenang. “Dengan pikiran yang jernih dan tubuh yang terlatih, kita bisa mengatasi apa pun.”
Lala mendesah, memandang ke depan dengan waspada. “Ini bukan tentang pikiran jernih, kakekku tersayang. Tapi kekuatan kita sangat jauh untuk menghadapi makhluk yang mengejar kita.  Tempat ini bukan hutan biasa. Disini kita sudah melihat berbagai makhluk yang tidak ada di dunia kita. Sudah beberapa kali kita hampir celaka karena dikejar makhluk yang sangat ganas.”
Tiba-tiba, suara gemericik terdengar dari semak-semak di depan mereka. Keduanya berhenti, memperhatikan dengan napas tertahan.
“Kau dengar itu?” bisik Lala.
Kakek mengangguk, pandangannya tajam. “Diam di tempat. Jangan bergerak.”
Mereka menunggu beberapa detik yang terasa seperti selamanya, hingga akhirnya seekor ular raksasa dengan sisik berkilauan muncul dari semak-semak.
Matanya yang bersinar hijau menatap mereka, lidahnya menjulur dengan suara mendesis tajam.
“Ular mutasi,” bisik Lala dengan wajah pucat.
“Jangan panik,” jawab kakek, menatap makhluk itu dengan hati-hati. “Gerakan tiba-tiba akan memancingnya menyerang.”
Namun, ular itu tampaknya sudah menganggap mereka sebagai mangsa. Ia melingkarkan tubuhnya, bersiap untuk menyerang. Lala dan kakeknya melompat ke samping tepat saat makhluk itu meluncur, menghantam tanah dengan suara keras.
“Lari!” teriak Lala.
Keduanya berlari melewati pepohonan, mencoba menjauh dari ular raksasa yang terus mengejar. Setiap kali makhluk itu meluncur, pohon-pohon tumbang di belakang mereka, menciptakan suara gemuruh yang membuat burung-burung beterbangan.
“Kakek, cepat!” Lala memutar tubuhnya, menarik tangan kakeknya yang hampir tersandung akar pohon.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku!” balas kakek dengan nada tegas, meskipun napasnya mulai terdengar berat.
Akhirnya, mereka menemukan sebuah celah kecil di antara bebatuan. Keduanya segera masuk, bersembunyi di dalam. Ular itu mendesis di luar, mencoba memaksakan tubuhnya masuk ke celah, tetapi ukurannya terlalu besar.
“Dia tidak bisa masuk,” bisik Lala, menarik napas lega.
“Tapi dia tidak akan pergi begitu saja,” gumam kakek sambil mengamati pergerakan ular di luar.
Beberapa waktu berlalu, setelah berupaya menangkap mangsanya dan gagal, ular itu akhirnya menyerah. Suara desisnya semakin menjauh hingga menghilang.
“Kita harus bergerak sekarang,” kata kakek. “Sebelum makhluk itu kembali.”
Lala mengangguk. “Baik. Tapi kita harus lebih hati-hati.”
Mereka melanjutkan perjalanan, berjalan lebih lambat kali ini untuk menghindari perhatian makhluk lainnya. Namun, tidak lama kemudian, suara langkah berat terdengar dari kejauhan.
“Kau dengar itu?” tanya Lala, berhenti di tempat.
“Ya,” jawab kakek dengan serius. “Kali ini lebih besar.”
Dari balik pepohonan, muncul makhluk mutasi yang menyerupai serigala raksasa, dengan bulu hitam yang terlihat seperti logam dan taring yang bersinar tajam. Makhluk itu menggeram, menatap mereka dengan tatapan lapar.
“Kita tidak bisa melawannya!” seru Lala.
“Kau benar,” jawab kakek. “Kita lari sekarang!”
"Kakek! Mana kata-katamu tentang kita tidak perlu senjata, cukup dengan pikiran yang jernih dapat mengatasi apapun." Teriak Lala sambil berlari menyindir kakeknya.
"Dasar bocah nakal, terus berlari! Jadikan ini sebagai latihan untuk memperkuat tubuhmu yang lemah itu." Balas kakeknya sambil berlari. Meski memiliki usia tua, namun berkat latihan dan pola hidup sehatnya, Kakek Lala memiliki kebugaran tubuh yang tidak kalah dengan orang muda.
Keduanya kembali berlari, tapi serigala itu jauh lebih cepat. Ia melompat, mencoba menerkam mereka, namun kakek dengan gesit mendorong Lala ke samping dan menghindari serangan itu.
“Jangan berhenti!” teriak kakek sambil mendorong tubuhnya hingga melompat di atas akar pohon besar.
Mereka akhirnya mencapai sebuah sungai kecil. Kakek berhenti, menarik napas dalam. “Masuk ke air. Bau kita akan hilang.”
Lala mengikuti perintah itu, melangkah ke dalam sungai. Mereka berendam hingga hanya kepala mereka yang terlihat, menunggu serigala itu muncul.
Makhluk itu tiba beberapa detik kemudian, mengendus-endus udara dengan suara keras. Namun, tidak menemukan jejak mereka. Lala dan kakeknya langsung menyelam agar tidak terlihat. Makhluk itu kemudian menggeram frustasi sebelum akhirnya pergi.
Setelah memastikan serigala itu pergi, Lala dan kakeknya keluar dari sungai, basah kuyup tapi selamat.
“Kita tidak bisa terus seperti ini,” gumam Lala sambil mengusap wajahnya. “Kita membutuhkan senjata.”
“Kita membutuhkan otak lebih dari senjata,” balas kakek. “Tapi aku setuju. Kita harus menemukan sesuatu untuk bertahan.”
Mereka terus berjalan, namun arah mereka mulai melenceng jauh dari tujuan semula. Hutan yang lebat dan penuh bahaya membuat mereka kehilangan arah.
“Kakek, aku tidak tahu lagi apakah ini jalan yang benar,” kata Lala, mulai putus asa.
“Kita tidak boleh menyerah,” jawab kakek dengan tegas. “Ingat tujuan kita, menemukan ayahmu sebelum Kane dan pasukannya menemukan terlebih dulu. Kita hanya perlu waktu lebih lama dari yang kita kira.”
Lala menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Kamu benar. Aku percaya padamu, Kakek.”
Namun, dalam hati, Lala tahu bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan bahaya yang lebih besar mungkin masih menunggu di depan.
